1. LATAR BELAKANG
Berbicara soal pemuda, mereka adalah sosok yang harusnya mencerminkan masa kekuatan diantara dua kelemahan. Saat kecil mereka adalah orang yang lemah, dan ketika tua juga kembali lemah. Sedangkan di masa muda, mereka diberikan keistimewaan yang begitu besar. Nikmat usia, kesempatan belajar, energi, kekuatan intelektual, analisa yang tajam dan idealisme. seharusnya dengan kelebihan – kelebihan itu, generasi muda memiliki ketajaman pikiran dan kreativitas tak terbatas.
Salah satu pelajaran tentang pemuda yang jelas sekali bisa kita jadikan contoh, kisah pemuda dalam surat Al Kahfi. Mereka hidup di masa pemimpin yang zalim, para pemuda itu kemudian menentang pemimpin zalim yang telah menyengsarakan rakyatnya. Saat akan ditangkap, mereka melarikan diri hingga masuk kedalam gua dan berlindung disana. Lalu apa yang terjadi ? Allah membuat mereka tertidur dan membangunkannya setelah pemimpinnya berganti kembali dengan orang beriman. Teguhnya akidah mereka sampai Allah tuliskan dalam Al Quran :
“Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan kami tambahkan petunjuk kepada mereka”. Al Quran surat Al Kahfi (18:13)
Jika ditelisik lebih jauh tentang ayat ini, ada tiga kata kunci , yaitu : pemuda, iman dan petunjuk. Lalu bagaimana dengan pemuda-pemudi masa kini? Adakah semangat dalam beriman dan cinta Islam tampak dalam dirinya? Apakah aqidah Islam itu benar masih terpatri dalam hatinya?. Jelas sekali kita bisa melihat, generasi muda Islam tak lagi hadir sebagai sosok yang tangguh, banyak yang kehilangan arah, punya idola tapi tak pantas jadi panutan, punya agama tapi tak kaffah di jalankan.
2. RUMUSAN MASALAH
1. Apa emas yang hilang dari pemuda – pemudi Islam masa kini?
2. Apa yang harus ada pada pemuda agar generasi emas itu muncul lagi?
3. METODOLOGI PENULISAN
Penulis menggunakan metode studi pustaka dan observasi. Selain itu juga mencari bahan dan sumber informasi terkait dari media elektronik, yaitu internet.
PEMBAHASAN
1. Emas yang Hilang dari Pemuda Pemudi Islam Masa Kini
Kepala BNN Heru Winarko mengatakan, kecenderungan meningkatnya penggunaan narkotika meningkat dengan korban mencakup dari kalangan anak-anak, remaja, generasi muda, TNI dan Polri, kepala daerah, anggota legislatif, hingga lingkungan rumah tangga. Data BNN pada tahun 2018, prevalensi angka penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar di 13 ibu kota provinsi di Indonesia mencapai angkta 3,2 persen atau setara dengan 2,29 juta orang. Sementara, pada tahun 2017, BNN mencatat angka prevalensi penyalahgunaan narkotika sebesar 1,77 persen atau setara 3.376.115 orang pada rentang usia 10-59 tahun.
Sementara itu, Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017 menyebut, 0,9 persen remaja perempuan dan 3,6 persen remaja laki-laki (berusia 15 sampai 19 tahun) mengaku pernah melakukan hubungan seksual. Meski persentasenya kecil, jika dibandingkan dengan populasi remaja Indonesia yang mencapai 40 juta jiwa.
Angka ini tentu saja sangat mengkhawatirkan, dan ini baru menyangkut narkoba dan seks bebas. Sudah menjadi suatu hal yang tidak asing, pemuda zaman sekarang menyimpang dari nilai-nilai agama Islam, kenakalan, kekerasan, penyalahgunaan narkoba, minuman keras, bullying, LGBT dan penyimpangan – penyimpangan lainnya. Belum lagi paham-paham komunis, feminis dan idealis yang dipoles sedemikian rupa, sehingga terlihat tetap sebagai kemasan yang indah dan tidak menyalahi norma agama Islam.
1.1 Konsep Adab – Sebelum Ilmu yang Tidak Tertanam
Pikiran generasi muda, kegiatan sehari-hari mereka, sudah disibukkan dengan paham komunis, feminis, idealis dan paham lain yang memang sengaja dirancang untuk membuat mereka menyimpang dari nilai-nilai Islam. Mereka hebat, cerdas dan punya banyak prestasi yang sifatnya duniawi, tapi tidak tertanam rasa malu dalam dirinya, aqidah Islam tidak tertancap dalam dada mereka. Sehingga tetap merasa benar meski telah terjebak dalam penyimpangan – penyimpangan nilai agama Islam. Bahkan lingkungan mereka dibesarkan turut mendukung dan sudah menjadi bagian penyimpangan itu.
Menukil dari buku Ta’limul Muta’allim, As Syekh Al Imam Burhanuddin mengatakan :
Kerusakan besar muncul dari seorang ‘alim yang tidak punya malu
Lebih rusak lagi seorang bodoh yang ahli ibadah
dan itu adalah fitnah besar di dunia ini
(Yakni) bagi orang yang mengikutinya dalam urusan agama
Jika ditarik benang merahnya, tentu banyak faktor yang mempengaruhi, dan hal ini tak bisa dipisahkan dari pola didik yang mereka dapatkan, baik dari lingkungan tempat tinggalnya atau dari lingkungan sekolah. Lingkungan keluarga- khususnya, menjadi lembaga paling sederhana yang paling banyak pula berperan membentuk pola pikir seorang anak.
Nabi Muhammad SAW bersabda :
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam). Namun, kedua orang tuanya yang akan membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi. (Al – Hadits)1
Apabila didikan konsep adab, akhlak dan akidah Islamnya tidak mengakar kuat pada diri seorang anak, maka terciptalah anak-anak yang pondasi keimanannya rapuh. Rasa takut dan selalu diawasi Sang Pencipta tidak menghujam kuat dalam diri mereka, membuat mereka mudah terbawa arus, lalu membuat pembenaran sendiri untuk aturan-aturan yang mereka anggap mengekang dan memberatkan.
Sesederhana berjabat tangan dengan non-mahram, dianggap sangat lumrah dan tidak menjadi masalah. Membuat pembenaran kalau bersalaman adalah bentuk menghargai, menghormati tanpa ada perasaan apapun, jadi tidak ada salahnya. Padahal, jika ditanamkan akidah yang kuat, diajarkan norma dan nilai-nilai Islam yang benar sejak kecil, diusia sebelum balighpun, mereka sudah memahami konsep adab dan akhlak dengan lawan jenis, merasa akan malu untuk bersentuhan dengan yang bukan mahramnya.
1.2 Kehilangan Sosok Ayah dan Ibu yang Sesungguhnya
Data BKKBN 2012 mengatakan bahwa 2.5 juta anak rindu sosok ayah yang sesungguhnya, tetapi karena tidak mendapatkan itu, mereka lari ke teman laki-laki, pacar, mencurahkan isi hati pada sosok yang dia anggap peduli dan perhatian padanya. Bunda Elly Risman, psikolog spesialis pengasuhan anak pernah mengatakan, Indonesia masuk jebakan besar yang disebut dengan ‘negeri krisis ayah’.
Ada yang hilang dari sosok ayah saat ini, fungsinya sekarang hanya kerja, cari duit, kerja, cari duit, begitu seterusnya. Peran seorang ayah adalah menjadi pemimpin yang membangun aqidah (faith and spirituality) atau keimanan. Anak membutuhkan sosok Ayah untuk menguatkan dan mendengarkannya. Jika seorang ibu bisa menggantikan sosok ayah dalam mencari nafkah, maka fungsi mendidik, memimpin dengan jiwa seorang ayah yang utuh, tidak akan pernah bisa digantikan. Pun sebaliknya, sosok ibu yang penuh cinta dan ketulusan.
2. Menciptakan Generasi Islam Seperti Zaman Nabi
2.1 Misi Hidup yang Ingin Dikerjakan Harus Ada Pada Pemuda
Jika ditanyakan pada anak-anak muda saat ini. Apa tugas mereka didunia? Apa maksud mereka diciptakan Allah kedunia?. Barangkali mereka akan bingung membedakan makna dua pertanyaan itu, menjawab singkat bahwa tujuan diciptakan adalah untuk beribadah kepada Allah SWT atau bahkan hanya seperti air, mengikuti kemana arah aliran yang kuat. Untung-untung kalau berujung di hilir sungai yang bersih dan jernih, tetapi bagaimana kalau berakhir di tangki pembuangan kotoran? Atau di sungai penuh limbah dan sampah?. Maksud manusia diciptakan berbeda dengan tugas penciptaan.
Kalau maksud penciptaan seragam bagi manusia, yakni beribadah kepada Allah dan menjadi khalifah di muka bumi. Tetapi tugas penciptaan adalah misi, menjawab alasan terbesar dan terpenting kenapa kita ada didunia, harus spesifik bagi setiap manusia. Saat sudah memasuki usia akil balig, para generasi muda mestinya sudah mempunyai list to do, yang awal niatnya haruslah untuk ibadah kepada Allah SWT, setiap tugas to do selesai, maka tercapai dan tuntaslah maksud penciptaannya, lalu terus mengerjakan misi selanjutnya sehingga menjadi pribadi yang mampu menebar sebesar-besarnya manfaat bagi orang lain.
2.2 Mempelajari Adab – Sebelum Ilmu dengan Benar
Seorang muslim wajib mempelajari semua keadaan yang akan ia jalani, keadaan apapun itu. Contoh sederhana, seorang muslim harus menegakkan salat, maka ia wajib mempelajari ilmu kewajiban salat, minimal ilmu yang dengannya ia bisa menjalankan kewajiban salat. Sebab sesuatu yang menjadi wasilah untuk menegakkan sesuatu yang wajib maka hukumnya juga wajib dipelajari. Jika dia melaksanakan salat hanya dengan ilmu seadanya, hanya dari pengajaran orang lain, tanpa menggali dan mempelajari lebih dalam makna sholat itu sendiri, tentu tidak akan mendapati hakikat salat itu sendiri.
Seyogianya seorang ahli ilmu tidak menghinakan diri dengan bersikap tamak terhadap hal yang tidak pantas untuk ditamaki, dan menjaga diri dari hal yang dapat merendahkan ilmu dan pemiliknya. Selain itu, hendaknya dia bersikap tawadu dan menjaga diri. Seorang penuntut ilmu harus pandai memilih yang terbaik dari setiap ilmu. Selain itu, ia harus memilih ilmu yang ia butuhkan dalam urusan agamanya pada saat itu, kemudian ilmu yang ia butuhkan pada masa yang akan datang. Ilmu tauhid dan mengenali Allah dengan dalil-dalilnya termasuk yang harus didahulukan untuk dipelajari. Selain itu para ulama juga mengatakan :
“Berpegangteguhlah dengan ilmu yang terdahulu (al-‘atiq) dan jauhilah ilmu yang baru (al-muhdatsat).”
Ilmu yang terdahulu adalah ilmu yang diajarkan Nabi Muhammad SAW, para sahabat, tabiin dan tabi’ut tabiin, yang batasan ini tentu saja dalam konteks mempelajari ilmu agama. Dalam mempelajari ilmu juga hendaknya memilih guru dengan benar dan meminta pertimbangan agar tidak berpaling dari guru tersebut, agar belajarnya diberkahi dan bisa mengambil banyak manfaat dari ilmu itu. Ada pepatah yang mengatakan, semua yang bergerak untuk menggapai cita-cita dan mengejar ketinggian. Namun, yang langka pada diri seseorang adalah keteguhan.
2.3 Urgensi Peranan Ayah dan Ibu yang Utuh
Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, peran seorang ayah adalah menjadi pemimpin yang membangun akidah (faith and spirituality) atau keimanan. Sementara Ibu hadir sebagai pemenuh cinta dan kasih sayang, keduanya akan terangkum dalam misi keluarga. Wujud keimanan seorang Ibu ada pada kesetiaannya mendukung penuh misi keluarga, yang sudah dirancang bersama Ayah. Peranan orangtua sangatlah penting, ini akan berkaitan erat dengan misi hidup seorang anak, yang kemudian tumbuh remaja dan menjadi bagian generasi muda Islam.
Misi keluarga didapatkan melalui waktu yang dihabiskan bersama anak – anak, tidak perlu resmi dan formal, dalam keadaan santai dan rileks saja. Momen Ramadhan atau momen Muharram barangkali bisa dijadikan kesempatan menemukan misi keluarga. Bisa dimulai dengan membacakan kisah-kisah keluarga hebat di dalam Al Quran.
KESIMPULAN
Masa muda adalah masa yang penuh kekuatan, namun keberadaannya diantara dua kelemahan. Kelemahan yang dimaksud adalah masa sebelumnya, saat masih balita dan anak-anak, memiliki banyak waktu tapi belum memiliki energi dan uang. Lalu masa tua yang sudah kehabisan energi, meskipun punya banyak waktu dan uang. Maka masa muda adalah masa yang paling puncak dalam diri seseorang, dimana mereka punya waktu, energi, ketajaman berpikir, kreativitas dan sifat kritis terhadap sesuatu. Sangat disayangkan, generasi muda muslim saat ini banyak yang tidak menyadari masa keemasan itu, yang ada mereka malah kebingungan, tidak tahu siapa yang harus dijadikan idola, tidak paham buku apa yang harus dijadikan petunjuk, disibukkan jika momentum emas itu justru dihabiskan.
Konsep adab yang tidak tertanam kuat, ditambah sosok orang tua yang tak lagi bisa menjadi panutan bagi anaknya sangat mempengaruhi seorang anak ketika sudah tumbuh menjadi generasi muda. Perihal mempelajari adab sebelum ilmu, mengutamakan ilmu tauhid, mempunyai misi yang jelas untuk masa depannya, sosok orangtua yang mendukung penuh misinya, menjadi urgensi yang harus dimiliki seorang pemuda Islam.
SARAN
Ada banyak kekurangan dalam penulisan karya ilmiah ini, penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga paparan yang penulis buat bisa bermanfaat dan di praktikkan seluas-luasnya. Lebih baik lagi jika bisa dikembangkan dengan hipotesis dan sumber informasi yang lebih jelas dan detail.
Jakarta Selatan
28 Agustus 2019