Selasa, 21 April 2020

EMAS YANG HILANG PADA PEMUDA – PEMUDI ISLAM MASA KINI


1. LATAR BELAKANG


Berbicara soal pemuda, mereka adalah sosok yang harusnya mencerminkan masa kekuatan diantara dua kelemahan. Saat kecil mereka adalah orang yang lemah, dan ketika tua juga kembali lemah. Sedangkan di masa muda, mereka diberikan keistimewaan yang begitu besar. Nikmat usia, kesempatan belajar, energi, kekuatan intelektual, analisa yang tajam dan idealisme. seharusnya dengan kelebihan – kelebihan itu, generasi muda memiliki ketajaman pikiran dan kreativitas tak terbatas.
Salah satu pelajaran tentang pemuda yang jelas sekali bisa kita jadikan contoh, kisah pemuda dalam surat Al Kahfi. Mereka hidup di masa pemimpin yang zalim, para pemuda itu kemudian menentang pemimpin zalim yang telah menyengsarakan rakyatnya. Saat akan ditangkap, mereka melarikan diri hingga masuk kedalam gua dan berlindung disana. Lalu apa yang terjadi ? Allah membuat mereka tertidur dan membangunkannya setelah pemimpinnya berganti kembali dengan orang beriman. Teguhnya akidah mereka sampai Allah tuliskan dalam Al Quran :
“Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan kami tambahkan petunjuk kepada mereka”. Al Quran surat Al Kahfi (18:13)
Jika ditelisik lebih jauh tentang ayat ini, ada tiga kata kunci , yaitu : pemuda, iman dan petunjuk. Lalu bagaimana dengan pemuda-pemudi masa kini? Adakah semangat dalam beriman dan cinta Islam tampak dalam dirinya? Apakah aqidah Islam itu benar masih terpatri dalam hatinya?. Jelas sekali kita bisa melihat, generasi muda Islam tak lagi hadir sebagai sosok yang tangguh, banyak yang kehilangan arah, punya idola tapi tak pantas jadi panutan, punya agama tapi tak kaffah di jalankan.

2. RUMUSAN MASALAH

    1. Apa emas yang hilang dari pemuda – pemudi Islam masa kini?
    2. Apa yang harus ada pada pemuda agar generasi emas itu muncul lagi?

3. METODOLOGI PENULISAN

Penulis menggunakan metode studi pustaka dan observasi. Selain itu juga mencari bahan dan sumber informasi terkait dari media elektronik, yaitu internet.

                                                           PEMBAHASAN



1. Emas yang Hilang dari Pemuda Pemudi Islam Masa Kini


Kepala BNN Heru Winarko mengatakan, kecenderungan meningkatnya penggunaan narkotika meningkat dengan korban mencakup dari kalangan anak-anak, remaja, generasi muda, TNI dan Polri, kepala daerah, anggota legislatif, hingga lingkungan rumah tangga. Data BNN pada tahun 2018, prevalensi angka penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar di 13 ibu kota provinsi di Indonesia mencapai angkta 3,2 persen atau setara dengan 2,29 juta orang. Sementara, pada tahun 2017, BNN mencatat angka prevalensi penyalahgunaan narkotika sebesar 1,77 persen atau setara 3.376.115 orang pada rentang usia 10-59 tahun.

Sementara itu, Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017 menyebut, 0,9 persen remaja perempuan dan 3,6 persen remaja laki-laki (berusia 15 sampai 19 tahun) mengaku pernah melakukan hubungan seksual. Meski persentasenya kecil, jika dibandingkan dengan populasi remaja Indonesia yang mencapai 40 juta jiwa.

Angka ini tentu saja sangat mengkhawatirkan, dan ini baru menyangkut narkoba dan seks bebas. Sudah menjadi suatu hal yang tidak asing, pemuda zaman sekarang menyimpang dari nilai-nilai agama Islam, kenakalan, kekerasan, penyalahgunaan narkoba, minuman keras, bullying, LGBT dan penyimpangan – penyimpangan lainnya. Belum lagi paham-paham komunis, feminis dan idealis yang dipoles sedemikian rupa, sehingga terlihat tetap sebagai kemasan yang indah dan tidak menyalahi norma agama Islam.
          

        1.1 Konsep Adab – Sebelum Ilmu yang Tidak Tertanam


Pikiran generasi muda, kegiatan sehari-hari mereka, sudah disibukkan dengan paham komunis, feminis, idealis dan paham lain yang memang sengaja dirancang untuk membuat mereka menyimpang dari nilai-nilai Islam. Mereka hebat, cerdas dan punya banyak prestasi yang sifatnya duniawi, tapi tidak tertanam rasa malu dalam dirinya, aqidah Islam tidak tertancap dalam dada mereka. Sehingga tetap merasa benar meski telah terjebak dalam penyimpangan – penyimpangan nilai agama Islam. Bahkan lingkungan mereka dibesarkan turut mendukung dan sudah menjadi bagian penyimpangan itu.

Menukil dari buku Ta’limul Muta’allim, As Syekh Al Imam Burhanuddin mengatakan :
Kerusakan besar muncul dari seorang ‘alim yang tidak punya malu
Lebih rusak lagi seorang bodoh yang ahli ibadah
dan itu adalah fitnah besar di dunia ini
(Yakni) bagi orang yang mengikutinya dalam urusan agama

Jika ditarik benang merahnya, tentu banyak faktor yang mempengaruhi, dan hal ini tak bisa dipisahkan dari pola didik yang mereka dapatkan, baik dari lingkungan tempat tinggalnya atau dari lingkungan sekolah. Lingkungan keluarga- khususnya, menjadi lembaga paling sederhana yang paling banyak pula berperan membentuk pola pikir seorang anak.

Nabi Muhammad SAW bersabda :

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam). Namun, kedua orang tuanya yang akan membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi. (Al – Hadits)1
Apabila didikan konsep adab, akhlak dan akidah Islamnya tidak mengakar kuat pada diri seorang anak, maka terciptalah anak-anak yang pondasi keimanannya rapuh. Rasa takut dan selalu diawasi Sang Pencipta tidak menghujam kuat dalam diri mereka, membuat mereka mudah terbawa arus, lalu membuat pembenaran sendiri untuk aturan-aturan yang mereka anggap mengekang dan memberatkan. 

Sesederhana berjabat tangan dengan non-mahram, dianggap sangat lumrah dan tidak menjadi masalah. Membuat pembenaran kalau bersalaman adalah bentuk menghargai, menghormati tanpa ada perasaan apapun, jadi tidak ada salahnya. Padahal, jika ditanamkan akidah yang kuat, diajarkan norma dan nilai-nilai Islam yang benar sejak kecil, diusia sebelum balighpun, mereka sudah memahami konsep adab dan akhlak dengan lawan jenis, merasa akan malu untuk bersentuhan dengan yang bukan mahramnya.

         1.2 Kehilangan Sosok Ayah dan Ibu yang Sesungguhnya


Data BKKBN 2012 mengatakan bahwa 2.5 juta anak rindu sosok ayah yang sesungguhnya, tetapi karena tidak mendapatkan itu, mereka lari ke teman laki-laki, pacar, mencurahkan isi hati pada sosok yang dia anggap peduli dan perhatian padanya. Bunda Elly Risman, psikolog spesialis pengasuhan anak pernah mengatakan, Indonesia masuk jebakan besar yang disebut dengan ‘negeri krisis ayah’. 

Ada yang hilang dari sosok ayah saat ini, fungsinya sekarang hanya kerja, cari duit, kerja, cari duit, begitu seterusnya. Peran seorang ayah adalah menjadi pemimpin yang membangun aqidah (faith and spirituality) atau keimanan. Anak membutuhkan sosok Ayah untuk menguatkan dan mendengarkannya. Jika seorang ibu bisa menggantikan sosok ayah dalam mencari nafkah, maka fungsi mendidik, memimpin dengan jiwa seorang ayah yang utuh, tidak akan pernah bisa digantikan. Pun sebaliknya, sosok ibu yang penuh cinta dan ketulusan.

2. Menciptakan Generasi Islam Seperti Zaman Nabi


        2.1 Misi Hidup yang Ingin Dikerjakan Harus Ada Pada Pemuda


Jika ditanyakan pada anak-anak muda saat ini. Apa tugas mereka didunia? Apa maksud mereka diciptakan Allah kedunia?. Barangkali mereka akan bingung membedakan makna dua pertanyaan itu, menjawab singkat bahwa tujuan diciptakan adalah untuk beribadah kepada Allah SWT atau bahkan hanya seperti air, mengikuti kemana arah aliran yang kuat. Untung-untung kalau berujung di hilir sungai yang bersih dan jernih, tetapi bagaimana kalau berakhir di tangki pembuangan kotoran? Atau di sungai penuh limbah dan sampah?. Maksud manusia diciptakan berbeda dengan tugas penciptaan. 

Kalau maksud penciptaan seragam bagi manusia, yakni beribadah kepada Allah dan menjadi khalifah di muka bumi. Tetapi tugas penciptaan adalah misi, menjawab alasan terbesar dan terpenting kenapa kita ada didunia, harus spesifik bagi setiap manusia. Saat sudah memasuki usia akil balig, para generasi muda mestinya sudah mempunyai list to do, yang awal niatnya haruslah untuk ibadah kepada Allah SWT, setiap tugas to do selesai, maka tercapai dan tuntaslah maksud penciptaannya, lalu terus mengerjakan misi selanjutnya sehingga menjadi pribadi yang mampu menebar sebesar-besarnya manfaat bagi orang lain.

       2.2 Mempelajari Adab – Sebelum Ilmu dengan Benar


Seorang muslim wajib mempelajari semua keadaan yang akan ia jalani, keadaan apapun itu. Contoh sederhana, seorang muslim harus menegakkan salat, maka ia wajib mempelajari ilmu kewajiban salat, minimal ilmu yang dengannya ia bisa menjalankan kewajiban salat. Sebab sesuatu yang menjadi wasilah untuk menegakkan sesuatu yang wajib maka hukumnya juga wajib dipelajari. Jika dia melaksanakan salat hanya dengan ilmu seadanya, hanya dari pengajaran orang lain, tanpa menggali dan mempelajari lebih dalam makna sholat itu sendiri, tentu tidak akan mendapati hakikat salat itu sendiri.

Seyogianya seorang ahli ilmu tidak menghinakan diri dengan bersikap tamak terhadap hal yang tidak pantas untuk ditamaki, dan menjaga diri dari hal yang dapat merendahkan ilmu dan pemiliknya. Selain itu, hendaknya dia bersikap tawadu dan menjaga diri. Seorang penuntut ilmu harus pandai memilih yang terbaik dari setiap ilmu. Selain itu, ia harus memilih ilmu yang ia butuhkan dalam urusan agamanya pada saat itu, kemudian ilmu yang ia butuhkan pada masa yang akan datang. Ilmu tauhid dan mengenali Allah dengan dalil-dalilnya termasuk yang harus didahulukan untuk dipelajari. Selain itu para ulama juga mengatakan :
“Berpegangteguhlah dengan ilmu yang terdahulu (al-‘atiq) dan jauhilah ilmu yang baru (al-muhdatsat).”

Ilmu yang terdahulu adalah ilmu yang diajarkan Nabi Muhammad SAW, para sahabat, tabiin dan tabi’ut tabiin, yang batasan ini tentu saja dalam konteks mempelajari ilmu agama. Dalam mempelajari ilmu juga hendaknya memilih guru dengan benar dan meminta pertimbangan agar tidak berpaling dari guru tersebut, agar belajarnya diberkahi dan bisa mengambil banyak manfaat dari ilmu itu. Ada pepatah yang mengatakan, semua yang bergerak untuk menggapai cita-cita dan mengejar ketinggian. Namun, yang langka pada diri seseorang adalah keteguhan.

     2.3 Urgensi Peranan Ayah dan Ibu yang Utuh


Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, peran seorang ayah adalah menjadi pemimpin yang membangun akidah (faith and spirituality) atau keimanan. Sementara Ibu hadir sebagai pemenuh cinta dan kasih sayang, keduanya akan terangkum dalam misi keluarga. Wujud keimanan seorang Ibu ada pada kesetiaannya mendukung penuh misi keluarga, yang sudah dirancang bersama Ayah. Peranan orangtua sangatlah penting, ini akan berkaitan erat dengan misi hidup seorang anak, yang kemudian tumbuh remaja dan menjadi bagian generasi muda Islam.

Misi keluarga didapatkan melalui waktu yang dihabiskan bersama anak – anak, tidak perlu resmi dan formal, dalam keadaan santai dan rileks saja. Momen Ramadhan atau momen Muharram barangkali bisa dijadikan kesempatan menemukan misi keluarga. Bisa dimulai dengan membacakan kisah-kisah keluarga hebat di dalam Al Quran.


KESIMPULAN


Masa muda adalah masa yang penuh kekuatan, namun keberadaannya diantara dua kelemahan. Kelemahan yang dimaksud adalah masa sebelumnya, saat masih balita dan anak-anak, memiliki banyak waktu tapi belum memiliki energi dan uang. Lalu masa tua yang sudah kehabisan energi, meskipun punya banyak waktu dan uang. Maka masa muda adalah masa yang paling puncak dalam diri seseorang, dimana mereka punya waktu, energi, ketajaman berpikir, kreativitas dan sifat kritis terhadap sesuatu. Sangat disayangkan, generasi muda muslim saat ini banyak yang tidak menyadari masa keemasan itu, yang ada mereka malah kebingungan, tidak tahu siapa yang harus dijadikan idola, tidak paham buku apa yang harus dijadikan petunjuk, disibukkan jika momentum emas itu justru dihabiskan.

Konsep adab yang tidak tertanam kuat, ditambah sosok orang tua yang tak lagi bisa menjadi panutan bagi anaknya sangat mempengaruhi seorang anak ketika sudah tumbuh menjadi generasi muda. Perihal mempelajari adab sebelum ilmu, mengutamakan ilmu tauhid, mempunyai misi yang jelas untuk masa depannya, sosok orangtua yang mendukung penuh misinya, menjadi urgensi yang harus dimiliki seorang pemuda Islam.

SARAN


Ada banyak kekurangan dalam penulisan karya ilmiah ini, penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga paparan yang penulis buat bisa bermanfaat dan di praktikkan seluas-luasnya. Lebih baik lagi jika bisa dikembangkan dengan hipotesis dan sumber informasi yang lebih jelas dan detail.

Jakarta Selatan

28 Agustus 2019

Pahlawan Perempuan Indonesia

Tulisan ini saya buat untuk memenuhi tugas akhir di Sekolah Pemikiran Islam - Jakarta, Februari 2020 lalu.
Demi menyebarluaskan sedikit ilmu yang saya miliki, teringat untuk membagikan ini di blog yang telah lama tak saya sambangi. 
Selamat membaca, semoga ada oleh-oleh yang bisa dibawa setelahnya  :). 


KARTINI DAN RAHMAH EL YUNUSIYAH : PROBLEM KULTURAL  

Latar Belakang

Keberadaan perempuan sebagai pembuka pintu peradaban tak bisa dipungkiri kebenarannya, peran perempuan dalam mendidik dan menghebatkan peradaban kecilnya (rumah tangga), akan menentukan generasi-generasi selanjutnya.

Islam sendiri mengakui hal itu, perempuan muslim memiliki peran dan tanggungjawab besar untuk menjadi madrasatul ula. Ia harus menjadi pribadi yang tangguh, punya semangat juang yang lebih, ilmu yang luas, kemampuan mendidik dan kesabaran yang tiada ujung dalam mengajarkan penerus generasi.

Ada banyak contoh nyata tentang sosok yang menggambarkan ketangguhan dan semangat juang dalam mendidik generasi, khususnya tokoh perempuan. Tak perlu jauh-jauh ke zaman sahabiyah yang sudah pasti mereka adalah contoh teladan terbaik bagi perempuan muslim. Jika kita mundur satu abad saja pada sejarah perjalanan bangsa Indonesia, maka akan ditemukan beberapa sosok perempuan hebat yang sangat menginspirasi, bahkan hingga hari ini.  

Nama seorang Kartini barangkali sudah sangat lekat dikenal sebagai tokoh perempuan pembaharu pendidikan di Indonesia dan bertebaran luas media yang membahas dan membesarkan namanya. Namun nama Rahmah El Yunusiyah masih jarang sekali muncul dan didengar publik, padahal mereka memiliki cita-cita yang sama, yakni ingin membuat perempuan Indonesia lebih maju dan bermartabat.

Meski kedua tokoh perempuan ini berbeda karakter dan kultur, tanpa mengurangi penghargaan terhadap Kartini atas perjuangannya di bidang pendidikan, sosok Rahmah tak kalah besar dan penting peranannya bagi perempuan Indonesia dalam mendapat akses ilmu pengetahuan, terutama ilmu agama Islam.

Perlu diketahui, pada abad ke-19 masyarakat atau bangsa Indonesia khususnya kaum perempuan masih sangat terbelakang. Wanita tidak punya kebebasan menuntut ilmu di sekolah, kebebasan bekerja diluar rumah, apalagi menduduki jabatan dalam masyarakat. Hanya saja, perbedaan budaya tempat mereka lahir, lingkungan tempat mereka tumbuh menjadi sisi lain yang perlu pula untuk dikemukakan, dan tulisan ini menjabarkan perbandingan kultur adat serta latar belakang keluarga yang secara tidak langsung mempengaruhi kebebasan gerak perjuangan mereka. 

Metode Penelitian


Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah studi literatur. Untuk informasi tentang Kartini didapatkan dari buku biografi yang diterbitkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta tahun 1986. Sedangkan untuk biografi Rahmah El Yunusiyah diperoleh dari buku yang disusun Diniyyah Research Center. Sumber lainnya yang digunakan adalah dari buku tentang tokoh bangsa dan beberapa artikel di internet yang telah dicantumkan di daftar pustaka.    

Kartini dan Perjalanannya dalam Kultur Jawa


Sebagaimana sebelumnya dijelaskan, pada abad ke 19-tahun 1846, orang Indonesia belum banyak yang memperoleh pendidikan. Bahkan orang Eropa sekalipun masih belum banyak yang sekolah tinggi, karena pada waktu itu belum banyak sekolahyang didirikan. Kalaupun ada, hanya terbatas pada golongan tertentu yang dapat masuk sekolah. Wanita Indonesia di abad itu semata-mata diberi kewajiban mengurus, mengatur rumah tangga dan mendidik serta mengasuh anak-anaknya. Wanita harus menyerah dengan segala persoalan, harus selalu sabar dan menurut pada suami. Ia dianggap sebagai budah kaum lelaki, tidak dibolehkan mempunyai kemauan apapun. Tetapi keadaan ini hanya berlaku bagi perempuan, anak gadis priyayi atau bangsawan. Akibat ketentuan ini, terjadilah hal yang tidak diinginkan kaum wanita, kawin paksa, kawin semasa anak-anak, kebiasaan beristri dua, tiga atau lebih.

Kartini dalam salah satu suratnya menulis :
“Selama ini hanya satu saja jalan yang terbuka bagi gadis bumiputera dalam menempuh hidup,ialah kawin”.

Pangeran Ario Tjondronegoro (kakek Kartini) amat cinta terhadap kemajuan dan ilmu pengetahuan, ia mendatangkan guru bernama CE Van Kesteren, dari Negeri Belanda untuk mendidik putra-putranya. Hal ini merupakan sesuatu yang janggal pada waktu itu, akibatnya ia mendapat celaan, kritik, sindiran bahkan hinaan atas keputusannya mendatangkan “guru rumah” dari bupati-bupati lain.

Pesan beliau pada putera-puteranya :
“Anak-anakku, tanpa pengajaran engkau semua tidak akan memiliki kebahagiaan. Di samping itu tanpa pengajaran engkau makin akan memundurkan keturunan kita, ingat-ingatlah kata-katak ini. wahai anak-anakku semua”.

Kesemua putranya membenarkan kata-kata dan pesan ayahnya itu, termasuk pula Raden Mas Adipati Sosroningrat, ayah Kartini.  RAAA Sosroningrat memiliki garwa padmi (permaisuri), bernama RA. Morjam. Mereka memiliki tiga orang putri, RA. Soelastri, RA. Roekmini dan RA. Kartinah. Sedangkan Ngasirah, ibunda Kartini adalah garwa ampil (selir) dan dalam pernikahannya dengan RAAA. Sosroningrat mempunyai delapan orang putera dan puteri.

Ayah Kartini termasuk orang yang telah berpikiran dan berpandangan maju, saat Kartini dirasa cukup umur untuk sekolah, ia dimasukkan ke Sekolah Rendah Kelas Dua Belanda di Jepara. Di Sekolah ini bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Belanda dan hanya menerima anak-anak keluarga pegawai dan bangsawan. Ada juga anak-anak Belanda dan Indo-Belanda yang bersekolah disitu. 
Dengan masuknya Kartini sekolah, berarti keluarganya juga telah melanggar adat yang masih kuat pada waktu itu. Adat Jawa yang masih menghendaki anak-anak gadis tetap tinggal di rumah. Mereka dilarang keras keluar rumah, apalagi untuk belajar ke sekolah setiap hari.

Pada masa sekolah itu, Kartini menyadari bahwa nasibnya sebagai anak gadis Jawa harus menurut, patuh dengan tujuan hidupnya, hanya satu saja, gadis bangsawan yang suatu hari pasti menjadi raden ayu. Awalnya dengan sabar Kartini mempelajari bagaimana cara berjalan, berpakaian, bertutur kata serta semua tingkah laku dan kehidupan seorang raden ayu.
Disisi lain, Kartini juga mendapat pendidikan memasak, menjahit dan menyulam di rumahnya. Pelajaran itu diberikan dua kali seminggu oleh seorang nyonya Belanda yang sengaja didatangkan ayahnya. Tak berhenti disitu, ayah Kartini juga mengundang guru agama untuk mengajarkan Kartini dan saudara-saudaranya mengaji Al Quran.

Tahun 1891, saat usia Kartini sekitar 12 tahun, ia telah menyelesaikan sekolah rendah. Keinginannya meluap-luap untuk melanjutkan ke sekolah menengah, seperti saudara dan kawan-kawannya, gadis Eropa. Tetapi sebagai seorang gadis Jawa, Kartini harus mematuhi adat yang berlaku, terlebih sebagai anak bangsawan. usia 12 tahun sudah dianggap dewasa. Ia tak boleh lagi berpergian kemana-mana, tidak bisa lagi ke luar rumah untuk bersekolah. Menjadi gadis pingitan, yang harus tetap tinggal di rumah dan bersiap menjadi ibu rumah tangga sampai ada yang melamarnya.

Bila awalnya Kartini senang dan sabar mempelajari bagaimana menjadi seorang raden ayu, tetapi ia kemudian melihat gambaran sosok raden ayu tidak bebas menentukan langkahnya sendiri, lagi-lagi terkungkung kuat oleh adat, harus patuh sepenuhnya pada suami tanpa bisa memberi masukan apapun. Ia menyadari, menjadi raden ayu artinya ia akan menikah dengan orang yang tidak dikenal. 

Maka timbullah semangat dihatinya, ingin bebas dan lepas dari ikatan adat, hatinya berontak tidak menyukai jika harus melakukan semua itu untuk orang yang tak dikenali.

Lahir dan tumbuh dalam keluarga priyayi Jawa yang feodalis, akhirnya membuat Kartini tetap dibatasi ruang geraknya. Keluarganya sudah mendapat celaan sebagai penentang adat dari para Bupati dan keluarga bangsawan lain. Ia terikat dalam masa pingitan, yang kemudian dihabiskan Kartini untuk membaca buku-buku kakaknya, Sosrokartono juga buku dari ayahnya.

Dalam perjalanannya setelah itu, baru sebulan menjadi guru di ruang belajar khusus perempuan yang ia dirikan, ia harus rela dijodohkan oleh ayahnya dengan bupati Rembang, Raden Adipati Jayahadiningrat.  

Rahmah El Yunusiyah dan Kultur Minangkabau 


Rahmah El Yunusiyah, puteri bungsu dari pasangan Rafi’ah dan Muhammad Yunus bin Imanudin. Ia lahir di daerah Bukit Surungan – Padang Panjang, 20 Desember 1900 atau 1 Rajab 1318 H. Rafi’ah masih ada keturunan ulama, empat nasab di atasnya masih ada hubungan dengan Haji Miskin, sang pembaharu gerakan Paderi. Sedangkan Syekh Muhammad Yunus bin Imaduddin, ayah Rahmah adalah ulama besar pada masanya.

Sejalan dengan peran Sumatera Barat sebagai akar gerakan pembaruan Islam di Indonesia pada awal abad ke-20, khususnya Padang Panjang pada gilirannya termasuk wilayah pertama di Indonesia yang mengalami proses modernisasi pendidikan Islam, dan Rahmah El Yunusiah tercatat sejarahnya menjadi tokoh yang berperan penting dalam proses tersebut.

Meski tidak mendapat pendidikan formal, pendidikan dasar Rahmah telah terbentuk dari lingkungan keluarga yang sangat mendukungnya untuk belajar, terutama masalah keagamaan. Ia mendapatkan ilmu menulis, membaca huruf arab dan latin dari kedua kakaknya, Zainuddin Labay dan Muhammad Rasyad. Mereka mengenyam pendidikan di sekolah Gubernemen, tahun 1915 Zainuddin Labay mendirikan Diniyyah School dan Rahmah ikut bersekolah disana. Sorenya ia belajar agama Islam lebih dalam kepada Syekh Abdul Karim Amrullah (Ayah Buya Hamka).

Atas saran dan dorongan dari Zainuddin Labay, Rahmah menikah dengan Haji Bahauddin Latif, anak seorang ulama beraliran thariqat Naqsyabandiyah di Negeri Sumpur. Mereka menikah pada tahun 1916, tetapi akhirnya berpisah secara baik-baik pada tahun 1922 karena perbedaan pendirian, Haji Bahauddin secara positif bergabung ke gelanggang politik di Minangkabau, sedangkan Rahmah bercita-cita aktif di bidang pendidikan, dan menginginkan sekolah yang ia bangun berdiri tanpa bergabung dengan aliran politik apapun. Selanjutnya, meski telah berpisah, Rahmah tetap berhubungan baik dengan mertua dan keluarga mantan suaminya.

1926 terjadi gempa hebat, rumah dan surau Syekh Abdul Karim roboh. Beliau kembali ke Sungai Batang Maninjau. Rahmah melanjutkan belajar ke Tuanku Mudo abdul Hamid Hakim, Syekh Abdul Latif Rasyidi, Syekh Muhammad Jamil Djambek, dan Syekh Daud Rasyid. 1931-1935  Rahmah mengikuti kursu ilmu kebidanan, kesehatan, P3K dan bahkan ikut belajar Gymnastik dengan seorang guru Belanda di Meisjes Normal School.

Seluruh ilmu yang ia miliki, kemudian dituangkan sedemikian rupa menjadi rancangan sekolah yang ingin ia dirikan untuk menghebatkan perempuan, khususnya para muslimah,

Tujuan pendidikan seorang Rahmah tergambar dalam satu kalimat cita-cita, yaitu:
“Perguruan Diniyyah Puteri melaksanakan pendidikan dan pengajaran berdasarkan atas ajaran Islam dengan tujuan membentuk puteri yang berjiwa Islam dan Ibu pendidik yang cakapdan aktif serta bertanggungjawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air, atas dasar pengabdian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala”.

Rahmah berusia 23 tahun saat mendirikan Perguruan Diniyyah Puteri di Padang Panjang, sekolah khusus perempuan itu resmi berdiri pada 1 November 1923. Bahkan berkat kerja keras, kesungguhan dan kesabaran beliau maka pada tahun 1955 Rektor Universitas Al Azhar Kairo mengadakan kunjungan khusus ke perguruan ini. ia kemudian mengambil sistem Diniyyah Puteri untuk mahasiswinya. Saat itu Al Azhar belum mempunyai lembaga pendidikan khusus untuk wanita dan Rahmah El Yunusiyah pun diundang untuk berkunjung ke Al Azhar. Dalam kunjungan balasannya tahun 1956, Rahmah dianugerahi gelar “Syaikhah” oleh Universitas Al Azhar Khairo. Menurut Buya Hamka, belum pernah ada seorang wanita di dunia ini yang mendapat gelar setinggi itu. Gelar Syaikhah biasanya diberikan kepada seorang laki-laki yang alim.

Rahmah El Yunusiyah telah menciptakan pendidikan modemis menurut modelnya sendiri, yang disesuaikan dengan kebutuhan kaum perempuan mencakup pendidikan formal agama dan pengetahuan umum. Rahmah mengajarkan murid-muridnya latihan berbagai keterampilan yang produktif, dan pendidikan akhlak yang secara eksplisit didasarkan pada agama Islam dan secara implisit kepada adat.

Rahmah lahir di daerah yang menganut sistem kekeluargaan matrilineal, yakni menarik garis keturunan dari ibu dan menempatkan pihak perempuan bertindak sebagai pewaris harta pusaka dan kekerabatan. 
Namun begitu, kekuasaan perempuan ada batasnya, begitu juga laki-laki memiliki kewajiban dan tanggungjawabnya yang jelas. Tidak ada tumpang tindih antara keduanya.

Sistem egaliter yang dimiliki oleh masyarakat Minangkabau menempatkan kedudukan antara laki-laki sama dengan perempuan dimata adat dan agama. Keduanya saling pengaruh mempengaruhi, adanya perimbangan dan kesimbangan dalam semua aspek kehidupan. Posisi kaum perempuan menurut adat Minangkabau adalah sebagai tokoh sentral. Oleh karena itu ia harus menjalankan peran dan fungsinya sekaligus. Peran tersebut berlaku baik di sektor domestik maupun publik. Keduanya menempatkan perempuan di posisi yang sangat berharga dan dihormati.
Bahkan, Ranny Emilia (2014) seorang pakar politik Universitas Andalas mengungkapkan bahwa peranan politik perempuan Minangkabau tidak berlaku hukum jender melainkan dilihat dari kemampuan dan pengalaman seseorang menyediakan perlindungan serta pengawasan dari kerusakan kultural dan material kelompok yang diwakilinya.

x

Kesimpulan

Kultur daerah, khususnya bagi kaum perempuan di Indonesia bisa mempengaruhi pilihan-pilihan masa depan yang bisa mereka ambil. Kartini dengan latar belakang adat Jawa yang kuat, membuktikan ia menghadapi berbagai benturan adat, yang kemudian mempengaruhi izin dari orangtuanya, membuat Kartini tak bebas memperoleh akses pendidikan. 
Berbeda dengan sosok Rahmah El Yunusiyah, kultur Minangkabau yang beriringan dengan Islam membuatnya mendapat lebih banyak dukungan dan semangat, terutama dari keluarga dan orang terdekat. Tetapi tentu saja perjuangan itu bukan tanpa penolakan, tetap harus melalui rintangan yang tak mudah. Selain itu, Rahmah El Yunusiyah sebagai tokoh pembaharu dalam pendidikan Islam, terutama bagi kaum perempuan Indonesia, masih belum begitu dikenali masyarakat.

Saran : 
Dalam pandangan penulis, pribadi seorang Rahmah El Yunusiyah perlu lebih banyak dibahas dan dikenalkan kepada masyarakat Indonesia. Ada banyak pelajaran yang bisa digali dari ghiroh dan perjuangan beliau mendirikan sekolah khusus muslimah, bukan hanya pertama di Indonesia, belum ada negara lain yang melakukannya saat itu. Sehingga pantaslah Rahmah mendapat gelar Syaikhoh atas kecerdasan berpikir dan pembaharuan yang dilakukannya.


Daftar Pustaka

Tashadi. 1986. RA KARTINI. Jakarta. DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN JAKARTA
Rasyad, Aminuddin dkk. 2019. Sang Pendidik Bergelar Syaikhah. Padang Panjang. DRC Publishing

Kedudukan Perempuan dan Aktualisasi Politik dalam Masyarakat Matrilinial Minangkabau

Peran Politik Perempuan dalam Sistem Martilineal diMinangkabau, Sumatera Barat

Kedudukan dan Peran Perempuan dalam Perspektif Islam dan Adat Minangkabau


Minggu, 15 September 2013

personal essay untuk melamar beasiswa



Writing a Cover Letter/Personal Essay for a Scholarship* **


  1. Use your resume as the database for the cover letter or essay. If you cannot include your resume with the cover letter or essay, as in most scholarship applications, you will need to include all information from your resume in the letter.

  1. Divide the material into specific areas, just as you would in a resume. These almost always include education, scholarships and awards, work experience and goals. Other categories you may or may not qualify for such as volunteer work, research projects, conference papers or presentations, independent study projects, affiliations, language and skills.

  1. You will need a strong organizing thesis statement or umbrella statement at the beginning in order to indicate the key categories that make you a good candidate.

  1. Introduce each section with a clear topic sentence, indicating which area you plan to discuss. They should contain key words to help direct the reader.
§  I have always chosen challenging courses, and have an excellent/ very good/ good academic record.
§  My academic achievement is demonstrated by the numerous scholarships I have received both at the high school and university level.
§  I have developed strong leadership skills, and know how to interact with a wide variety of other people while working several different jobs…
§  I have done a fair amount of community service including…
§  My independent research projects have strengthened my skills in laboratory work and developed in me an eye for details.
§  Tutoring has taught me to work diplomatically and successfully with a wide variety of students.
§  Travel has played a large role in shaping my view of others and of cultural differences.

  1. Your discussions should be result oriented. As a result of working at a bank, you value accuracy, efficiency and understand job responsibility.

  1. You should stress the qualities and areas of expertise that make you good candidate for the scholarship. To do this, refer to the qualifications listed with the scholarship. So, for example, if the committee considers financial need when deciding upon the candidates, make a point of your financial need but not in a tacky way. Committees often look for such things in a candidate as well:
    • Knowledge of chosen field, carefulness of work
    • Motivation, enthusiasm, seriousness of purpose
    • Creativity, originality, ingenuity of problem solving
    • Ability to plan and carry out research, organization
    • Ability to express thought in speech and writing
    • Maturity, emotional stability, ability to withstand stress and face challenges
    • Leadership skills
    • Self-reliance, initiative, independence, adaptability
    • Responsibility
    • Ability to work well with others
    • Growth potential, desire to achieve, dedication to goals

7.   You will need a concluding sentence that wraps the letter up and summarizes key strengths.

8.   Choice of words is important. Achieve a balance between bragging and modesty. Avoid exaggerations and clichés but do not down play your worth.  A list of active word is included, as well. 

9.   Proofread your letter/essay. Consider grammar, punctuation, and spelling. Avoid wordiness. Be clear and concise.

10.   Format the letter as a letter. That means addresses and the date at the top, a greeting (Dear Mrs. Wolf,) a closer (Sincerely,) and a signature above your name in print.

11.   Format the essay as an essay. If they’ve asked for an essay, do not submit a letter.


*  More often than not, scholarships only require either a cover letter or personal essay. If only one is required, the body of text and guidelines remain the same but the format is done accordingly. If both are required, think of the cover letter as a small, tight introduction to the personal essay. If a cover letter, personal essay, and resume are required then the cover letter introduces you, the purpose for sending the packet of stuff you’re sending, and gives a brief overview of what to expect in the resume. The personal essay becomes an expansion of the resume as well as a source of information on those things we can’t glean from the resume or cover letter.

** Adapted from “Writing a Cover Letter for a Scholarship.” Maureen Thum, English Department Lecturer, U of M – Flint.

Tips: What to Do with a Scholarship Application Essay*


  1. Answer the Question. Review the question asked by the application. Has the student completely answered it? If not, what additional info needs to be included? How can it be effectively inserted into the text?

  1. Be Original. Is the essay individual and creative or does it give an unexciting narrative?

  1. Be Individual. Scholarship officers want to learn about the student and his or her writing ability. Is the essay meaningful and descriptive, about the student’s feelings and not entirely about actions?

  1. Don’t “Thesaurize” the Composition. Big words used inappropriately make for clunky, unconvincing essays.

  1. Use Imagery and Clear, Vivid Prose. A lot of students who come to us are not ease with using imagery so it’s up to us to see that all of the reader’s senses are engaged.

  1. Spend Most of Your Time on the Introduction. Expect scholarship officers to spend 1-2 minutes reading the essay. The introduction should grab the reader’s interest from the beginning. Some things to keep in mind:

§  Don’t summarize in the introduction. If you summarize, the scholarship officer need not read the rest of your essay.

    • Create mystery or intrigue in your introduction. It is not necessary or recommended that your first sentence give away the subject matter. Raise questions in the minds of the scholarship officers to force them to read on. Appeal to their emotions to make them relate to your subject matter.

  1. Relate Body Paragraphs to the Introduction. The introduction can be original but cannot be silly. The paragraphs that follow must relate to the introduction.

  1. Use Transitions. Applicants continue to ignore transitioning to their own detriment. Use transitions within paragraphs and especially between paragraphs to preserve the logical flow of the essay. Transitions are not limited to phrases like “as a result, in addition, while, since, etc.” but includes repeating key words and progressing the idea. Transitions provide the intellectual architecture to argument building. 

  1. Conclude with a bang. The conclusion is the last chance to persuade or impress the reader. In the conclusion, avoid summary since the essay is usually short to begin with; the reader should not need to be reminded of what was written 300 words before. Also, do not use stock phrases like “in conclusion, in summary, to conclude, etc.”

Sample Cover Letter Format*

Fran Fingers
1234 Any Street
Anywhere, Anystate 12345
(123) 867-5309

October 5, XXXX

Bonnie Blum Memorial Scholarship Selection Committee
5678 Any Street
Anyhwere, Anystate 12345

Members of the Selection Committee:

Opening: Houses the reason for the letter, the specifics of your application, umbrella statement for rest of letter.

First Paragraph: Topic Sentence, discussion of one of areas mentioned earlier (education for example) briefly or in depth depending on accompaniment of personal essay and/or resume.

Second Paragraph: Transition, topics sentence, discussion of new point.

Third Paragraph: See second.

Fourth Paragraph: See third. Eventually you will run out of new points to discuss. You will then make the transition into a closing paragraph.

Closing: Often times it’s easy to transition from your goals to a summation of the letter. Do not use the same wording as the opener. Thank the committee for considering your letter.

Sincerely,

Signature

Fran Fingers

* Adapted from “Guidelines for Cover Letter.” CDC, U of M - Flint
Sample Essay/Cover Letter 1

I am applying for the Ralph M. and Emmalyn E. Freeman Honors Scholar Program Scholarship. Presently, I am a junior in the nursing program. I believe my chosen profession will enable me to fulfill all of my desires to help others, to continuously expand my knowledge base and skills and to travel the world. Throughout my life I have participated in extracurricular activities including valuable volunteer experiences. I have striven for academic excellence, always wishing to make the most of my education. In addition, I have managed to work to provide for some of the basic expenses that students have. Next year this will especially important, as I will no longer be receiving the Chancellor Scholarship.

Education has always been an important aspect of my life. While in high school I managed to take challenging courses such as advanced placement English and calculus, physics, and chemistry. I enjoyed the arts and was involved in art, band, and choir. Despite the time consuming practices for concerts, parades, musicals and exhibits, I was able to maintain a 3.97 grade point average, allowing me to graduate as salutatorian. I decided to sty near home and come to the University of Michigan-Flint because of the smaller class size, scholarship monies and the University’s Honor Program.

I have received many scholarships since I began my college career. In 1998 I received the Chancellor’s Scholarship providing me with $1,700 per year for four years. I also received three scholarships from my graduating high school. The first was the Goodrich Alumni Scholarship totaling $200. The second was the Goodrich Teachers Scholarship totaling $500. The last was from the National Honor Society and totaled $260. All of these awards were given based on scholarship and community service. Because of my acceptance in the University’s Honor Program I also receive the Honor’s Scholarship. Despite the challenges of both the nursing and honors curriculum I have managed to maintain a 3.7 grade point average. My efforts did not go unnoticed and in 2001 I received two additional scholarships including the Ralph M. and Emmalyn E. Freeman Honors Scholar Program Scholarship and the Ralph M. And Emmalyn E. Freeman Long Distance Learning Scholarship. These accomplishments lead me to believe that in the future I will continue to perform at a high level in the academics.

Although education plays a significant role in my life, I am involved with many other activities. During high school I was an active member of the National Honor Society for two and a half years. My last year as a member gave me the opportunity to play a more active role as I participated as NHS treasurer. I frequently tutored individuals by offering my time before and after school for middle and high school students. I enjoy helping others with schoolwork and have continued to aid fellow students at the college level. I also enjoy the arts and participated in many performances, plays, musicals and exhibitions, often requiring traveling to other areas and interacting with new individuals. Currently I am involved with fellow nursing students on a class and university level. I belong to the National Student Nurses Association as well. I have volunteered my time to inform individuals of various ages of what nursing involves and share the need for nurses. IN addition, I have entered the community to perform blood pressure screening and offer information to those at risk for hypertension and diabetes. I have increased my knowledge base as well as my public presentation skills by presenting one of my papers, Beatrice and Katharine: Shakespeare’s Unconventional Women at the Purdue University-Calumet Undergraduate Research Conference in 1999. Through all of these experiences I have learned to act as a leader, work in groups, and organize my time appropriately.

In addition to school related activities I am also involved with my local church. I teach a class of 3-6 year old kids. When other teachers are unable to teach Sunday school I do not hesitate to come to their aid. I have participated in church cleanup, nursery duty and choir as well. I feel that by aiding in church related activities I am setting a positive example for the children within the church to follow.

Work is also a part of my life. Until recently, I would work 16-20 hours/week to provide for educational expenses. Presently I work 8 hours/week in the neonatal intensive care unit as an extern at Hurley Medical Center. I enjoy working because I am able to see newborns progress to a state where they can finally be discharged to their families. I enjoy teaching parents about their infants such as what to expect, what is normal for their infant to do and when to call the doctor. During the summer of 2001 I worked in a group of three other individuals to perform a quality improvement project on gavage fed infants and then presented the results to our peers. Through my work experiences I have learned a little more about what to expect upon completion of the nursing program and now know the reality of what to expect as a registered nurse. Seeing problems such as mandatory overtime and poor benefits despite a nursing shortage has motivated me to remain active in associations such as the Student Nursing Association because I realize that as a group we will be able to voice our concerns about the issues that nurses face today.

My goal is to become a registered nurse so that I can perform task that clients cannot do for themselves as well as be an active listener, patient advocate and educator. At some point I would enjoy going back to school to become a practitioner. I have had an extraordinary number of nursing instructors who were absolutely wonderful and would one day like to give back what they have given to me by becoming an instructor. I know that one day I will provide something meaningful to the individuals that I encounter.

Sample Essay/Cover Letter 2

I wish to apply for the __________ scholarship. I believe that my excellent academic record, and service work make me a good candidate for a scholarship. Throughout high school I maintained a high level of academic achievements while volunteering for community service and working 20 hours a week. I graduated from Owosso high school as the Salutatorian of my class in 1999. I had a 3.99 GPA. In addition to my academic classes, such as AP English and Physics, I was a member of the A capella Choir. This demanded extra time and effort especially before the concerts in December, March and May during which our director held extra practices at night and on the weekends.

Not only was I involved with academic and extra curricular activities; I also worked in a pizza restaurant approximately 20 hours a week. After two years, I was promoted to a key holding position where I am still working today. I supervise the other employees, handle customer complaints and close the building at night. This employment has taught me much about myself and others. I have learned what it means to work hard and how to motivate other to do the same thing.

At the University of Michigan-Flint, I applied and was one of twenty students from a total of seventy applicants t enter the honors program. In addition, I was awarded the Distinguished Chancellor Scholarship, Michigan Competitive Scholarship and Honors Program Scholarship. These resources have made my college experiences possible. I am working towards a degree in elementary education with concentration in mathematics and language arts.

I have continued to maintain an excellent academic record of academic achievement with a GPA of 3.93, while working thirty five to forty five hours a week to finance my education. Presently, I work at Fred Meyer Jewelers, Mancino’s Pizza and Grinders, and as a Supplemental Instructor (SI) for Business Calculus. From this wide range of experiences I have gained a broad background of life. I enjoy working with and for people. I have learned from being an SI leader how to explain things in several different ways and not to give up until the student truly understands the material.
In addition to my employment I also continue to volunteer for community service. I assist in a kindergarten class every Wednesday. I have tied shoes; put on name tags, sang songs and helped the children make apple muffins. I help the teacher with lessons, art projects, supervising during “play time,” testing and many other aspects of the career I hope to have one day. It is the most rewarding experience at this pointing in my life. I love children. Watching them grow and learn is one of my greatest joys.

I also give some of my time to the children at my church. I am the leader of the puppet team there. I organize outings, performances and competitions for about fifteen children between the ages of eleven and sixteen. I conduct practice for two hours every Saturday in which the puppeteers learn more about puppetry and practice songs and skits for upcoming performances. I chose the material and make decisions about who gets which part. Dedication and commitment are two of the traits that have been developed in me through this experience.

After graduation I hope to become an elementary school teacher. I am committed to this goal as is evident by my record of academic accomplishments and community service. I am convinced that all these factors make me a good candidate for this scholarship.

Sample Essay/Cover Letter 3

My name is __________, and I am applying for the Ralph M. and Emmalyn E. Freeman Philosophy Scholarship. Presently, I am a senior working towards a Bachelor’s degree in Philosophy and English with a specialization in writing. Despite being a full time student, balancing two majors, maintaining a 3.8 GPA, and working over 30 hours a week, I also take the initiative to enhance my education outside the classroom. I constantly strive for excellence and am committed to making my time as an undergraduate as productive and beneficial as possible.

A well-rounded student, my interests span across curriculum and culture. I’ve thirsted for knowledge since childhood, and when I finally reached high school, my craving was further whetted. I finished fifth grade in the United States before moving to Bethlehem, Palestine. There, in my parent’s homeland, I completed the next 4 years of my education. Consequently, I attended my first year of high school in an Arabic school. Although I did exceedingly well there, ranking seventh amongst my classmates, my family relocated to Grand Blanc, MI before I began tenth grade. Regardless of the radical shift in culture and educational systems, I excelled in my new setting. I graduated from Grand Blanc High School in January 2000, a semester early, with a 3.81 GPA and ranking 38th out of a class of 468. 

Attending college liberated me and allowed me to not only explore a wider array of subjects, including women, gender and feminist studies, but also explore myself. I grew into a strong woman, questioning the status quo and doing all I can to change injustices I find. My development was aided by the Michigan Competitive Scholarship (since Fall 2002) and consistently acknowledged by the University of Michigan-Flint Scholar Award (for every semester at U of M – Flint except Fall 2000).

My personal achievements exceed beyond school, however. I work roughly 30 hours a week, spread liberally over two jobs. The first is as a cashier for Bernie’s Market. I’ve learned to work with others through this experience and it has shaped me into a responsible adult. As Bernie’s is a family business, I often open and close the market, work with suppliers, track purchase and sales, in addition to hands-on jobs like stocking shelves.

The second is as head tutor in the Marian E. Wright Writing Center. I am responsible not only for tutoring developmental writers enrolled in ENG 109 and students wanting one-on-one appointments for any subject, in any stage of writing but also supervise the day-to-day operations of the center. I monitor scheduling and budget, organize and lead meetings, plan
and execute workshops, and overall keep the writing center running smoothly for the benefit of fellow tutors and students. Currently, I’m also voluntarily involved in planning the 11th Annual Michigan Writing Centers Ideas Exchange with my co-workers, manager and director. I’ve also helped revise the syllabus for the center’s tutor training course. After its revisions, I worked with the center’s director and fellow staff to carry out the revisions in the actual classroom. My work in the center is extremely gratifying both on the personal and professional level. I take pleasure in watching my students discover and rediscover writing. Furthermore, their success inspires me to delve into my own work regularly.

In that avenue, I spend what little spare time I have writing and revising poetry for submission to contests and various publications. I’m also in the process of assembling a work tentatively titled “Fabulous Feminism” which I intend to be an introductory guide to feminism in all its faces. To do this, I’m drawing on my experience from Spring and Summer 2002 in which I created the “Road Guide to Working in the Writing Center,” an instructional manual for all incoming tutors. Over the upcoming spring, summer and fall, I’m working with the help of Dr. Jami Anderson to begin and complete my senior thesis concerning feminist ethics. In the past, I attended two Writing Center conferences including the 9th Annual Michigan Writing Centers Ideas Exchange and the National Conference on Peer Tutoring in Writing/Midwest Writing Centers Association Conference 2002, for which I was a presenter.

Behind my achievements is a strong desire to learn. I hope to complete my Bachelor’s degree over the next year and attend graduate school so I can one day return the favor many professors bestowed on me and teach at a college level. Philosophy has taught me to evaluate life and my experience. It’s through that that I hope to become an instrumental member of society, using all of my energies to bring about constructive change and create a path to the “good life,” not only for myself but also for others. 

I would like to thank you in advance for considering my application.